Rabu, 19 November 2014

TUGAS AGAMA



5 tokoh bani umayah timur

Tokoh-tokoh bani umayyah timur

1.      Muawiyah ibn Abi Sufyan (661-680M)

Muawiyah bernama asli muawiyah bin abi sufyan bin sakhar bin harb bin umayyah bin abdi al- syams bin abdi al- manaf bin qusai al-qurasyi al-umawi.[1] Beliau dilahirkan dari sepasang suami istri yang bernama abu sofyan bin harb dan hindun binti utbah. Muawiyah diangkat menjadi pemimin pada umur 77 tahun dan menjadi khalifah pertama dalam sejarah bani umayyah.  Hal ini terjadi karena adanya perang siffin yang memerkokoh posisi muawiyah dari khalifah ali bin abu thalib. Kalau kita tarik mundur maka muawiyyah pertama masuk islam pada peristiwa umrah qadha namun beliau menyembunyikan keislamannya sampai peristiwa Fathu Makkah.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, muawiyah ditugaskan sebagai penuis wahyu.  Pada masa khulafa ar-rasyidin muawiyah diangkat sebagai salah satu panglima perang dibawah komando utama Abu Ubaidah bin Jaharrah. Beliau berhasil menaklukan Palestina, Surriyah, dan Mesir dari tangan Imperium Romawi Timur.[2] Kemenangan demi kemenangan muawiyah dapatkan pada masa kekhalifahan Umar bin Khatab. Pada saat pemerintahan Utsman bin Affan yang menjadi khalifah muawiyah diangkat sebagai gubernur pada wilayah Syiriyah dan Palestina yang berkedudukan di Damaskus menggantikan Abu Ubaidah bin Jarrah. Namun pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib terjadi beberapa konflik antara kaum muslimin yang menyebabkan pacahnya pendukung Ali dan Ali bin Abi thalib terbunuh karena konflik tersebut.

Setelah Ali bin Abi Thalib terbunuh, kekuasaan tertinggi dipegang oleh anaknya yaitu Hasan bin Ali. Namun karena keadaan yang tidak menentu, setelah tiga bulan akhirnya Hasan mengundurkan diri dan menyerahkan jabatan khalifah terhadap Muawiyah. Muawiyah sering dikenal dengan negarawan sekaligus politikus yang sangat cerdik.

2.      Abdul Al- Malik bin Marwan (685-705M).

Abdul Malik bin Marwan adalah khalifah ke-5 dari Dinasti Umayyah. Beliau menjabat sebagai khalifah pada usia 39tahun. Beliau menjadi khalifah atas wasiat ayahanda, Marwan bin Hakam. Selama 21 tahun beliau berkuasa, dan menjadi khalifah yang perkasa, negarawan yang berwibawa, serta mampu memulihkan kesatuan kaum muslim. Semasa kepemimpinannya beliau berhasil menundukan Balkh (Afganistan), Bukhara (Uzbekistan), Khawariz, Ferghana, dan Samarkand.[3] Setelah itu Abdul Malik menyerang Romawi untuk merebut Asia kecil dan Armenia, bersamaan dengan ini Abdul Malik mengirim pasukan berkuda menuju Afrika Utara dengan dibantu oleh pasukan dari Mesir dan Libiya.

Akhirnya pasukan berhasil menduduki Benteng Kartago dan berhasil menghalau pasukan Barbar dibawah pimpinan Ratu Kahina di wilayah Al-Jazair. Ratu Kahina tertangkap dan diberi hukuman mati. Ketika kaum muslimini mengalami kemenangan dan kemenangan dalam pertempuran khalifah Abdul Malik bin Marwan wafat. Kemudian selain itu beliau juga menjadikan bahasa arab adalah bahasa resmi dalam administrator.[4]Dalam sejarah, Abdul Malik dikenal dengan julukan “Abdul Muluk” atau ayah dari para khalifah.[5]

3.      Al- Walid bin Abdul Malik (705-715M)

Setelah Abdul Malik wafat kekhalifahan jatuh pada anak sulungnya yaitu Al- Walid ibn Abdul Malik. Seperti yang dilakukan oleh ayahnya Abdul Malik, Al- Walid melanjutkan pemerintahan yang efektif. Beliau mengmbangkan sistim kesejahteraan, mmbangun rumah sakit, institusi pendidikan, dan langkah-langkah untuk apresiasi seni. Beliau termasuk kedalam seorang penggemar berat seni, hal ini terbukti dalam hal pembangunan kembali Masjid Nabawi di Madianah pada tahun 706 M. beliau juga mengubah Basilika Kristen St. Yohanes Pembaptis menjadi sebuah masjid yang sangat megah yang dewasa ini dikenal dengan Masjid Agung Damaskus atau Masjid Umayyah. Selain itu Al- Walid termasuk orang yang murah hati, karya yang paling terbesar untuk negrinya ialah beliau mengumpulkan anak-anak yatim, kemudian diberikannya jaminan kehidupan yang layak dan pendidikan untuk mereka. Bagi orang yang cacat diberikan pelayanan khusus dan bagi orang yang buta (Tunanetra) disediakannya alat bantu tongkat untuk membantu ereka berjalan.

Dibalik kesuksesan Al- Walid ternyata ada sesosok sentral yang sangat sentral berjasa dalam perluasan dan kekuatan pemerintahan umayyah, seorang ini juga yang berada di balik kesuksesan ayah Al- Walid dulu yaitu Abdul Malik. Beliau adalah Al- Hajaj, dalam pemerintahan Al- Walid belia berhasil menaklukan Transoxiana (706M), Sindh (712M), sebagian Perancis (711M), Punjab dan Khawarizm (712M) Kabul (713M), Tus (715M), Spanyol (711M) dan tempat lainnya.[6]

4.      Umar ibn  Abdul Al-Aziz ( 717-720M)

Umar ibn Abdul Al-Aziz adalah khalifah setelah Sulaiman bin Abdul Malik. Beliau menjadi khalifah setelah menerima surat wasiat setelah sepupunya Sulaiman bin Abdul Maik wafat.[7] Ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan dan ibunya bernama Laela bin ashim, Umar ini adalah cicit dari Khulafah Ar-Rasyidin kedua yaitu Umar bin Khatab.[8]Setelah beliau maju sebagai khalifah yang baru, beliau berhasil meredam pasukan oposisi anarkis dan berujung membaik pada saat ia menjabat. Ketika beliau dinobatkan menjadi kalifah ia pernah berkata, seperti yang saya kutip dalam buku sejarah peradaban islam karya Dr. Badri Yatim, M.A, “memperbaiki dan meningkatkan negri yang berada dalam wilayah islam lebih baik dari pada menmbah perluasannya”.[9] Walau masa pemerintahannya terhitung singkat namun beliau berhasil menjalin hubungan baik dengan golongan Syi’ah, beliau juga memberi kebebasan untuk penganut agama lain untuk menjalankan ibadahnya sesuai degan keyakinan dan kepercayaannya masing-masing, dan juga meringankan pajak. Banyak yang menganggap beliau ini sebagai khuafah Ar-Rasyidin ke-5, karena sikap beliau yang hamper mewarisi mendiang kakeknya  khalifah Umar bin Khatab.
5.      Hisyam bin Abdul Al-Malik (724-743M)

Hisyam bin Abdul Al-Malik adalah kalifah ke-10 dalam pemerintahan Bani Umayyah. Dalam masa pemerintahannya beliau cukup lama menjabat sebagai khalifah yaitu berkira 18-19 tahun. Selama beliau menjabat banyak sekali perlawanan dari para pemberontak, walau Hisyam terkenal sangat kuat dan terampil.[10] Banyak hal yang dilakukan oleh khalifah Hasyim, seperti halnya saudara Al-Walid I, beliau merupakan pelindung seni yang besar sehingga mengakibatkan berkembangnya seni itu di negaranya. Selain itu ia juga membangun banyak sekolah-sekolah, mengawasi penerjemahan karya-karya besar sastra dan ilmiah kedalam bahasa arab dan yang terpenting dapat mempersatukan garis keturunan Umayyah. Dalam bidang militer beliau berhasil merredam kepemimpinan hindu dibawah pemerintahan Jai Signh di Sind, hal ini juga yang membuat Daulah Umayyah menegaskan kembali kekuasaannya di India.

Dalam penyerangannya ke wilayah Prancis Selatan, Khalifah Hisyaam mengutus panglimanya yang bernama Anbas bin Syuhain sebagai gubernur di daerah Andalusia menggantikan Sammah bin Malik Al-Khaulani yang gugur. Dengan kekuatan yang besar panglima Anbas percaya diri dengan menyebrang ke pegunungan Pyren dan menaklukan wilayah Nanbonne di Selatan Prancis. Selanjutnya ia meju ke Marseilles dan Avignon serta Lyon, menerobos wilayah Burgundy.[11] Kemenagan demi kemaenangan manambah kepercayaan diri Anbas sampailah kedaerah benteng sens letaknya sekitar 100 mil dari Paris ibu kota Neustria kala itu. Namun Karel Martel yang menjabat pejabat kala itu menghadang pasukan kaum muslim. Pasukan muslim pimpinan panglima Anbas kalah, panglima Anbas gugur dan pasukannya bertahan dalam Parancis Selatan.berita ini sampai ke Damaskus dan terdengar oleh Khalifah Hisyam. Khalifah Hisyam segera menunjuk pangima Al-Ghafiqi yang langsung menggantikan panglima Anbas yang gugur sebelumnya. Enam than setelah beliau menjabat sebagai panglima akhirnya beliau berhasil memukul mundur pasukan Karel Matel. Sejak saat itu nama panglima Al- Ghafiqi tersebar luas dikalangan rakyat Eropa. Karel Martel dan Raja Teodorick IV menyuruh seluruh warga Eropa untuk memberikan perlawanan kepada kaum muslimin sehingga menyebabkan panglima Al- Ghafiqi gugur.

Khalifa Hisyam wafat dalam usia 55 tahun, mananya cukup harum dalam sejarah peradaban islam, karena dalam ketegasannya beliau senantiasa mendengarkan nasihat dari para ulama. Sepeninggalan Khalifah Hisyam wafat para pemimpin Daulah Umayyah tidak hanya lemah namun juga bermoral rendah, disisi lain gerakan oposisi bertambah kuat. Sehingga pada masa pemerintahan khalifah terakhir Daulah Umayyah yaitu Marwan bin Muhammad pada 750 M Daulah Umayyah jatuh dan digantikan oleh Daulah baru yaitu Daulah Abbasiyah.

PAHLAWAN TANPA TANDA JASAKU



PAHLAWAN TANPA TANDA JASAKU
KARYA:ZAIM FALIQ NUGROHO
Ilmu maha dalam
Bagai udara tebal kabut
Niat tulus suci
Membawamu kesekolah ini
Tanpa kau sadari
Itu cara mu mengabdi

Pahlawan tanpa tanda jasaku
Kau ulurkan tanganmu
Dengan wajah yang berseri
Seakan kau tahu apa maksud hatiku ini
Ku ternganga olehmu
Ilmu maha dashyat kau tanamkan padaku

Pahlawan tanpa tanda jasaku
Tak kenal lelah
Itulah prinsipmu
Pantang menyerah
Itulah semangatmu
Dengan kesederhanaanmu
Membimbingku sepenuh hati
Ku terkagum-kagum menatapmu
Kau bagai cahaya menyinari dunia
Ya! Tanpa dirimu apa jadinya diriku

Tapi tenanglah!
Namamu selalu bergelora
Di lubuk hatiku paling dalam
Jasa dan pundi-pundi ilmu yang kau tanam
Takkan pernah terlupakan

Minggu, 09 November 2014

PUISI SPESEIAL HARI PAHLAWAN

Lelaki Berjiwa Patriot

Karya: Zaim faliq Nugroho 

Lihatlah Mereka! 
Berdiri di depan tanpa gentar!!
Lihatlah Mereka!
Berdiri di depan tanpa rasa takut!!

Wahai Lelaki Berjiwa Patriot
Tak setabung nafas kau tinggalkan
Tak setetes darah kau sesalkan
Lihatlah,lihatlah dan lihatlah
bangkai yang membusuk itu
Aku tak ingin begini wahai patriot ku
Kau tuangkan perjuanganmu
Kau tuangkan nyawamu demi sehelai kain berkibar di langit

Mimpi seburuk ini kau perjuangkan
Entah dimana kau berada kala ini
Entah bercinta di atas ranjang
Entah berdiam diri di liang Lahat 

Terima kasih patriot ku 
Tanpa dirimu apa jadinya diriku
Mungkin terkapar bagaikan mayat
Mungkin terbelenggu merintih bagai budak kesakitan 

Terima kasih patriot ku 
Berkat jasamu
Tampak merah putih berkibar tegak dihadapanku

PERLAWANAN TERHADAP PENJAJAH

Perlawanan Rakyat Maluku tahun 1817

Tidakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816.
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku.
a. Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
b. Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
e. Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota besar saja.
d. Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
e. Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.

Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.


Perang ini disebabkan oleh Belanda yang sewenang2 terhadap Maluku
Perang ini berlangsung pada tahun 1817
Tokoh-tokohnya antara lain:

1. Thomas Matulessy / Kapitan Pattimura
2. Christina Martha Tiahahu
3. Kapitan Paulus Tiahahu

Perang ini Disertai dengan perebutan benteng Duurstde yang mengakibatkan kematian Jendral Van Den Berg. Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah. Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.



2. Perang Diponegoro

Perang ini disebabkan karena Belanda membuat jalan melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro dan untuk membela rakyat yang dipersempit ruang geraknya. Perang ini berlangsung tahun 1825-1830 Tokohnya adalah Pangeran Diponegoro yang melawan Belanda dengan pimpinan Jendral De Kock. Hasilnya rakyat Jawa kalah dan P. Diponegoro diasingkan ke Maluku & Makassar.


3. Perlawanan Rakyat Minang / Perang Padri

Perang ini awalnya disebabkan karena perselisihan antara kaum Padri dan kaum Adat, namun Belanda ikut campur dan menimbulkan meletusnya perang. Perang ini terjadi di tahun 1820-1837. Pahlawannya adalah Tuanku Imam Bonjol Hasilnya benteng milik Tuanku Imam Bonjol jatuh ke tangan Belanda dan Imam Bonjol diasingkan ke Cianjur


4. Perlawanan Rakyat / Perang Aceh

Perang ini disebabkan karena Belanda ingin menguasai Aceh. Perang ini terjadi pada tahun 1873. Pada Perang ini Belanda mengirim Snouck Hungronje untuk menyamar ke Aceh dan menulis siasat perang. Pahlawan2nya:
1. Teuku Umar

2. Cut Nyak Dien
3. Teuku Cik Di Tiro
4. Panglima Polim
5. Cut Nyak Meutia

Hasil Akhirnya Belanda menguasai Aceh dengan perundingan


5. Perlawanan Rakyat / Perang Tapanuli

Perang ini disebabkan karena Belanda ingin melindungi para penyebar agam dalam Rhigusnhezending. Perang ini terjadi pada tahun 1878-1907 Tokohnya adalah Sisingamangaraja XII. Namun Ia gugur.


6. Perlawanan Rakyat Bali/ Perang Jagaraga

Perang ini disebabkan karena Belanda melanggar perjanjian hak rakyat Bali untuk mandapatkan kapal karam di perairan Bali. Pahlawannya adalah I Gusti Ketut Jelantik Hasil akhirnya belanda gagal namun 3 tahun kemudian berhasil menguasai Jagaraga, Klungkung, Karangasem, dan Gianyar.


7. Perlawanan Rakayat Sulsel / Perang Makassar

Perang ini terjadi karena Van Der Capellen ingin memperbaiki perjanjian Bongaya.
Perang ini terjadi pada tahun 1824. Salah satu Pahlawannya adalah Sultan Hasanuddin Hasil akhirnya Belanda dapat menaklukan kerajaan Bone dan Raja Bone dijadikan 'raja boneka'


8. Perlawanan Rakyat Kalsel / Perang Banjar

PERANG PADERI 1803-1838

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Begitulah ungkapan yang paling bijak dan tepat terkait sikap kita terhadap para pahlawan yang rela berkorban untuk mempersatukan Indonesia dari serangan penjajah.Setiap daerah di Indonesia tentunya memiliki sejarah tersendiri terkait dengan berbagai peristiwa yang berkaitan dengan perlawanan terhadap bangsa asing yang pernah menjajahnya. Tak begitu juga dengan daerah Sumatra Barat.
Sumatra Barat pada abad ke 18 masehi pernah terjadi konflik internal antara kaum adat dan kaum Paderi. Kemudian konflik tersebut semakin memuncak hingga mengakibatkan perlawan besar setalah bangsa asing (Belanda) ikut campur didalamnya.
Banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah dalam peristiwa Padri ini, mulai dari Tuanku Imam Bonjol, Benteng Bonjol, Strategi yang digunakan dalam perang, semangat Nasionalisme masyrakat Sumatera Barat dan masih banyak lagi.
Sangat menarik apabila kita membahasnya lebih lanjut, untuk itu penulis, membuat makalah ini dengan judu “Perang Padri 1803-1838 (Dari Konflik Internal Berujung Pada Konflik Dengan Kolonial) ”.
1.2 Runusan Masalah
(1) Apa yang di maksud dengan perang Padri ?
(2) Bagaimana periodesasi waktu terjadinya dalam perang Padri ?
(3) Apa sebab-sebab yang memunculkan terjadinya perang Padri ?
(4) Bagimana akhir dari peristiwa perang Padri ?
1.3 Tujuan
(1) Untuk mengetahui maksud dari perang Padri.
(2) Untuk mengetahui periodesasi waktu terjadinya dalam perang Padri.
(3) Untuk mengetahui sebab yang memunculkan terjadinya perang Padri.
(4) Untuk mengetahui akhir dari peristiwa perang Padri.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Perang Padri
Perang Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838.
Perang ini merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama sebelum berubah menjadi peperangan melawan penjajahan.
Istilah Padri berasal dari kata Pidari atau Padre, yang berarti ulama yang selalu berpakaian putih. Para pengikut gerakan padri biasanya memakai jubah putih. Sedangkan kaum adat memakai pakaian hitam.
Selain itu juga ada yang berpendapat bahwa disebut gerakan Padri karena para pemimpin gerakan ini adalah orang Padari, yaitu orang-orang yang berasal dari Pedir yang telah naik haji ke Mekah melalui pelabuhan Aceh yaitu Pedir.
Adapun tujuan dari gerakan Padri adalah memperbaiki masyarakat Minangkabau dan mengembalikan mereka agar sesuai dengan ajaran Islam yang murni yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist. Gerakan ini mendapat sambutan baik di kalangan ulama, tetapi mendapat pertentangan dari kaum adat. (Mawarti, Djoened PNN, 1984:169).

2.2 Sebab Awal Terjadinya Perang Padri
Pada awalnya perang Padri disebabkan pertentangan antara golongan Adat dengan golongan Padri. Masing-masing berusaha untuk merebut pengaruh di masyarakat.
Kaum adat adalah orang-orang yang masih teguh dalam mempertahankan adat didaerahnya sehingga mereka tidak berkenan dengan pembaharuan yang dibawa oleh kaum Padri. Agama Islam yang dijalankan kaum adat sudah tidak murni, tetapi telah terkontaminasi atau telah terkontaminasi dengan budaya setempat.
Kaum Padri adalah golongan yang berusaha menjalankan Agama Islam secara murni sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist.
Setealah kaum Adat mengalami kekalahan, mereka meminta bantuan kepada Belanda yang akhirya konflik ini berkembang menjadi konflik antara kaum Padri dengan Belanda.

2.3 Periodesasi Gerakan Padri
Secara umum perang Padri dibagi dalam dua periode yaitu :
A. Periode 1803 – 1821 (Perang antara Kaum Padri Melawan kaum Adat)
1. Sebab terjadinya Perang
Pada tahun 1803, Minangkabau kedatangan tiga orang yang telah menunaikan ibadah haji di Mekah, yaitu: H. Miskin dari pantai Sikat, H. Sumanik dari Delapan Kota, dan H. Piabang dari Tanah Datar. Di Saudi Arabia mereka memperoleh pengaruh gerakan Wahabi, yaitu gerakan yang bermaksud memurnikan agama Islam dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik. Mereka yang hendak menyebarkan aliran Wahabi di Minangkabau menamakan dirinya golongan Paderi (Kaum Pidari).
Perang Padri dimulai dengan munculnya pertentangan sekelompok ulama yang dijuluki kaum Padri terhadap kaum Adat karena kebiasaan-kebiasaan buruk yang marak dilakukan oleh kalangan masyarakatdi kawasan Kerajaan Pagaruyung dan sekitarnya. Kebiasaan buruk yang dimaksud sepertiperjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. kebiasaan ini semakin meluas dan mempengaruhi kaum mudanya.
Ternyata aliran wahabi ini ditentang oleh Kaum Adat (ajaran Islam yang bercampur dengan adat setempat) yang terdiri dari pemimpin-pemimpin adat dan golongan bangsawan.
Pertentangan antara kedua belah pihak itu mula-mula akan diselesaikan secara damai, tetapi tidak terdapat persesuaian pendapat. Akhirnya Tuanku Nan Renceh menganjurkan penyelesaian secara kekerasan sehingga terjadilah perang saudara yang bercorak keagamaan dengan nama Perang Padri (1803 – 1821).
2. Jalanya Perang
Perang saudara ini mula-mula berlangsung di Kotalawas. Selanjutnya menjalar ke daerah-daerah lain. Pada mulanya kaum Paderi dipimpin Datuk Bandaro melawan kaum Adat di bawah pimpinan Datuk Sati. Karena Datuk Bandaro meninggal karean terkena racun, selanjutnya perjuangan kaum Padri dilanjutkan oleh Muhammad Syahab atau Pelo (Pendito) Syarif yang kemudian dikenal dengan nama Tuanku Imam Bonjol karena berkedudukan di Bonjol. Tuanku Imam merupakan anak dari Tuanku Rajanuddin dari Kampung Padang Bubus, Tanjung Bungo, daerah Lembah Alahan Pajang.
Dalam perang itu, kaum Padri mendapat kemenangan di mana-mana. Sejak tahun 18815 kedudukan kaum Adat makin terdesakkarena keluarga kerajaan Minangkabau terbunuh di Tanah Datar, sehingga kaum Adat (penghulu) dan keluarga kerajaan yang masih hidup meminta bantuan kepada Inggris (di bawah Raffles yang saat itu masih berkuasa di Sumatera Barat).
Karena Inggris segera menyerahkan Sumatera Barat kepada Belanda, maka kaum Adat meminta bantuan kepada Belanda, dengan janji kaum Adat akan menyerahkan kedaulatan seluruh Minangkabau (10 Februari 1821). Permintaan itu sangat menggembirakan Belanda yang memang sudah lama mencari kesempatan untuk meluaskan kekuasaannya ke daerah tersebut.
3. Pemimipin yang terlibat
Kaum Pidari dipimpin oleh Datuk Bandaro, Datuk Malim Basa,Tuanku Imam Bonjol Tuanku Pasaman, Tuanku Nan Renceh, dan Tuanku Nan Cerdik.
Kaum Adat dipimpin oleh Datuk Sati.

B. Periode 1821 – 1838 (Perang antara Kaum Padri Melawan Belanda)
Sejak disetujuinya perjanjian antar kaum adat dengan Belanda mengenai penyerahan kerajaan Minangkabau kepada Belanda pada tanggal 10 Februari 1821, hal ini menjadi tanda dimulainya keikutsertaan Belanda dalam melawan kaum Padri.
Dalam perang antara kaum Padri melawan Belanda, jalanya perang dibagi menjadi tiga periode:
1. Periode I (Tahun 1821 – 1825)
Periode pertama ini ditandai dengan meletusnya perlawanan di seluruh daerah Minangkabau. Di bawah pimpinan Tuanku Pasaman, kaum Paderi menggempur pos-pos Belanda yang ada di Semawang, Sulit Air, Sipinan, dan tempat-tempat lain. Pertempuran menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Tuanku Pasaman, kemudian mengundurkan diri ke daerah Lintau, sebaliknya Belanda yang telah berhasil menguasai lembah Tanah Datar, mendirikan benteng pertahanan di Batusangkar ( Fort Van den Capellen) dan Benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
Ternyata Belanda hanya dapat bertahan di benteng-benteng itu saja. Daerah luar benteng masih tetap dikuasai oleh kaum Pidari. Belanda mengalami kekalahan di mana-mana, bahkan pernah mengalami kekalahan total di Muara Palam dan di Sulit Air.
Untuk itu, Belanda mulai mendekati kaum Padri ntuk melakukan perdamaian dan pada tanggal 22 Januari 1824 Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum Padri di Masang dan di daerah VI Kota, isinya: kedua belah pihak akan mentaati batasnya masing-masing. Adanyaperundingan ini sebenaranya hanya menguntungkan pihak Belanda untk menunda waktu guna memperkuat diri.
Setelah berhasil memperkuat pertahannanya, Belanda tidak mau mentaati perjanjian dan dua bulan kemudian Belanda meluaskan daerahnya.
2. Periode II (Tahun 1825 – 1850)
Pada periode ini ditandai dengan meredanya pertempuran. Kaum Padri perlu menyusun kekuatan, sedangkan pihak Belanda dalam keadaan sulit, sebab baru memusatkan perhatiannya dan pengeriman pasukan untuk menghadapi perlawanan Diponegoro di Jawa Tengah.
Belanda mencari akal agar dapat berdamai dengan kaum Padri. Dengan perantaraan seorang bangsa Arab yang bernama Said Salima ‘Ijafrid, Belanda berhasil mengadakan perdamaian dengan kaum Padri tanggal 15 November 1825 di Padang, yang isinya:
Kedua belah pihak tidak akan saling serang menyerang.
Kedua belah pihak saling melindungi orang-orang yang sedang pulang kembali dari pengungsian.
Kedua belah pihak akan saling orang-orang yang sedang dalam perjalanan dan berdagang.
Belanda akan mengakui kekuasaan Tuanku-Tuanku di Lintau, Limapuluhkota, Telawas dan Agam.
3. Periode III (Tahun 1830-1838)
Periode ketiga ini ditandai dengan perlawanan di kedua belah pihak makin menghebat. Perang Diponegoro di Jawa Tengah telah dapat diselesaikan Belanda dengan tipu muslihatnya. Perhatiannya lalu dipusatkan lagi ke Minangkabau. Maka berkobarlah Perang Padri periode ketiga.
Belanda telah mengingkari Perjanjian Padang. Pertempuran mulai berkobar di Naras daerah Pariaman. Naras yang dipertahankan oleh Tuanku Nan Cerdik diserang oleh Belanda sampai dua kali tetapi tidak berhasil. Setelah Belanda menggunakan senjata yang lebih lengkap di bawah pimpinan Letnan Kolonel Elout yang dibantu Mayor Michiels, Naras dapat direbut oleh Belanda. Tuanku Nan Cerdik menyingkir ke Bonjol, selanjutnya daerah-daerah kaum Pidari dapat direbut oleh Belanda satu demi satu, sehingga pada tahun 1832 Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda.
Pada tahun 1832, Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan Belanda. Akan tetapi ketenteraman itu tidak dapat berlangsung lama, karena rakyat diharuskan:
Membayar cukai pasar dan cukai mengadu ayam.
Kerja rodi untuk kepentingan Belanda.
Dengan hal-hal tersebut di atas, sadarlah kaum Adat dan kaum Pidari bahwa sebenarnya mereka itu hanya diperalat oleh Belanda. Perasaan nasionalisme mulai timbul dan menjiwai mereka masing-masing. Selanjutnya terjadilah perang nasional melawan Belanda. Pada tahun 1833 seluruh rakyat Sumatera Barat serentak menghalau Belanda. Bonjol dapat direbut kembali dan semua pasukan Belanda di dalamnya dibinasakan. Karena itu Belanda mulai mempergunakan siasat adu domba (devide et empera).
Dikirimkanlah Sentot beserta pasukan-pasukannya yang menyerah kepada Belanda waktu Perang Diponegoro ke Sumatera Barat untuk berperang melawan orang-orang sebangsanya sendiri. Tetapi setelah Belanda mengetahui bahwa Sentot mengadakan hubungan dengan kaum Pidari secara rahasia, Belanda menjadi curiga. Pasukan Sentot ditarik kembali ke Batavia dan Sentot diasingkan ke Bangkahulu.
Untuk mengakhiri Perang Padri itu, Belanda berusaha menarik hati para raja di Minangkabau dengan cara mengeluarkan Plakat Panjang (1833) yang isinya:
1. Penduduk dibebaskan dari pembayaran pajak berat dan pekerjaan rodi.
2. Perdagangan hanya dilakukan dengan Belanda saja.
3. Kepala daerah boleh mengatur pemerintahan sendiri, tetapi harus menyediakan sejumlah orang untuk menahan musuh dari dalam atau dari luar negeri.
4. Para pekerja diharuskan menandatangani peraturan itu. Mereka yang melanggar peraturan dapat dikenakan sanksi.

2.4 Akhir Perang Padri
Di tahun 1835 kaum Padri di Bonjol mulai mengalami kemunduran, hal tersebut disebabkan ditutupnya jalan-jalan penghubung dengan daerah lain oleh paskan Belanda. Pada tanggal 11-16 Juni 1835 sayap kanan pasukan Belanda berhasil menutup jalan yang menghubungkan benteng Bonjol dengan daerah barat dan menembaki benteng Bonjol.
Setelah daerah-daerah sekitar Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda,. Membaca situasi yang gawat ini, pada tanggal 10 Agustus 1837, Tuanku Imam Bonjol menyatakan bersedia untuk berdamai. Belanda mengharapkan bahwa perdamaian ini disertai dengan penyerahan. Tetapi Belanda menduga bahwa ini merupakan siasat dari Tuanku Imam Bonjol guna mengulur waktu, agar dapat mengatur pertahanan lebih baik, yaitu membuat lubang yang menghubungkan pertahanan dalam benteng dengan luar benteng, di samping untuk mengetahui kekuatan musuh di luar benteng.
Kegagalan perundingan ini menyebabkan berkobarnya kembali pertempuran pada tanggal 12 Agustus 1837. Belanda memerlukan waktu dua bulan untuk dapat menduduki benteng Bonjol, yang didahului dengan pertempuran yang sengit. Meriam-meriam Benteng Bonjol tidak banyak menolong, karena musuh berada dalam jarak dekat. Perkelahian satu lawan satu tidak dapat dihindarkan lagi. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Pasukan Padri terdesak dan benteng Bonjol dapat dimasuki oleh pasukan Belanda.
Pada tanggal 25 Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda. Tuanku Imamm Bonjol kemudian dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Pada tanggal 19 Januari 1839 dibuang ke Ambon, lalu pada tahun 1841 dipindahkan ke Manado hingga meninggal dunia pada tanggal 6 November 1864.
Walaupun Tuanku Imam Bonjol telah menyerah tidak berarti perlawanan kaum Padri telah dapat dipadamkan. Perlawanan masih terus berlangsung dipimpin oleh Tuanku Tambusi, namun Tuanku Tambusi berhasil dikalahkan oleh Belanda pada tanggal 28 Oktober 1838.
Dengan demikian, secara umum perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir tahun 1838. Maka kekuasaan Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Padri adalah peperangan yang berlangsung di daerah Minangkabau (Sumatra Barat) dan sekitarnya terutama di kawasan Kerajaan Pagaruyung dari tahun 1803 hingga 1838. Perang ini berawal dari konflik internal antara kaum adat dengan kaum Padri (orang-orang yang ingin meluruskan ajaran Islam).
Perang ini terjadi dalam dua periode, yaitu:
1. Periode I 1803-1821 (Perlawanan kaum Padri dengan kaum Adat)
2. Periode II 1821-1838 (Perlawanan kaum Padri dengan Belanda).
Dalam perang melawan Belanda, dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
a) Tahap I 1821-1825 (meningkatnya perlawanan rakyat)
b) Tahap II 1825-1830 (perlawanan menurun, Belanda fokus pada perang Diponegoro di Jawa Tengah)
c) Tahap III 1830-1838 (Kaum Padri mengalami kekalahan)
Akhir dari perang padri ditandai dengan semakin banyaknya wilayah kekuasaan kaum padri yang jatuh ketangan Belanda, selain itu juga menyerahnya Tuanku Imam Bonjol beserta sisa pasukannya menyerah kepada Belanda Pada tanggal 25 Oktober 1837.
Dengan demikian, secara umum perlawanan kaum Padri dapat dipatahkan pada akhir tahun 1838. Maka kekuasaan Belanda mulai sejak itu ternanam di Sumatra Barat.

3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini penulis berharap supaya pembaca dapat mengetahui serta menambah wawasan tentang perang Padri yang terjadi tahun 1803-1838. Penulis menyarakan supaya pembaca mencari sumber referensi lain supaya pengetahuan semakin luas. Dan semoga makalah ini dapat menumbuhkan rasa nasionalisme kita terhadap bangsa Indonesia.

Daftar Pustaka

Mawarti J. Poesponegoro. 1984.Sejarah Nasional Indonesia IV. Jakarta: Balai Pustaka.
Rickleft.1999. Sejarah Indonesia Moderen. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kardiyat Wiharyanto. 2006.Sejarah Indonesia Madya Abad XIV-XIX. Yogyakarta: Universitas Santana Dharma,
Habib, Mustopo. 2007.Sejarah SMA Kelas XI Program IPS. Jakarta: Yudistira.
Evi Aryanto.2010.Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI IPS Semester 2. Sukoharjo: William.
http://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Padri ( Diunduh pada tanggal 20/9/2013, pukul 19:21)
http://blogbelajar-pintar.blogspot.com/2012/11/perang-padri-1821-1837.html ( Diunduh pada tanggal 20/9/2013, pukul 20:21)